https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/issue/feed Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2026-06-24T03:24:51+00:00 Dr. Sri Mulyani sri.mulyani@sttmoriah.ac.id Open Journal Systems <p><strong>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen</strong> (<strong>e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1563161367" target="_blank" rel="noopener">2715-2758</a></strong>) i<em>s a scholarly theological journal with a Biblical Practical perspective, serving as an academic platform for multidisciplinary research. The journal is managed by the Institute for Research and Community Service</em> (IRCS) of Sekolah Tinggi Teologi Moriah.</p> <p><strong>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen</strong> <em>has been accredited at</em> <strong>SINTA Rank 4</strong> <em>based on the Decree of the Director General of Higher Education, Research, and Technology, Ministry of Education, Culture, Research, and Technology of the Republic of Indonesia (No. 79/E/KPT/2023), dated 11 May 2023, and is a member of CrossRef.</em></p> <p><em>The</em> <strong>focus and scope</strong> o<em>f articles published in Didache encompass theology and Christian religious education. All accepted articles are published in either Indonesian or English.</em></p> <p><em>The journal is published biannually, with <strong>two issues </strong>released each year in <strong>June</strong> and <strong>December</strong>.</em></p> <p> </p> <p><strong>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen</strong> (<strong>e-ISSN: </strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1563161367"><strong>2715-2758</strong></a>) merupakan jurnal ilmiah teologi dengan perspektif Praktika Biblikal yang menjadi wadah ilmiah untuk jurnal akademik dengan multidisiplin ilmiah yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Teologi Moriah.</p> <p>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen telah<strong><em> terakreditasi di </em></strong><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/8761"><strong><em>SINTA Peringkat 4</em></strong></a><strong><em> berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor </em></strong><a href="https://drive.google.com/file/d/1hNI7Y6_cQW8b-sYOWVagmx4LxQGclPbc/view?usp=sharing"><strong><em>79/E/KPT/2023</em></strong></a><strong><em>, tertanggal 11 Mei 2023 </em></strong>dan anggota <a href="https://search.crossref.org/?q=Didache%3A+Jurnal+Teologi+dan+Pendidikan+Kristen&amp;from_ui=yes">CrossRef</a>. </p> <p><strong>Fokus dan Ruang Lingkup</strong> artikel yang dipublish di jurnal Didache adalah dalam lingkup teologi dan pendidikan agama Kristen. Semua artikel yang telah diterima, diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia atau Inggris. </p> <p><strong>Penerbitan jurnal</strong> ini akan dilakukan dalam satu tahun <strong>sebanyak dua kali terbit</strong> yaitu pada bulan <strong>Juni</strong> dan <strong>Desember</strong>.</p> https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/606 HUKUM ROH KEHIDUPAN 2026-04-20T09:45:17+00:00 Raden Hastara Endy Prasetyo radenhep@gmail.com Suhadi radenhep@gmail.com <p>Pembebasan dari hukum dosa dan maut merupakan pengalaman esensial dalam kehidupan iman orang percaya pada gereja masa kini. Permasalahan utama terletak pada kesenjangan antara pemahaman teoretis tentang pembebasan spiritual dan implementasinya dalam kehidupan gereja, yang mengakibatkan spiritualitas superfisial dan irelevansi gereja terhadap tantangan kontemporer. Penelitian ini bertujuan menghadirkan eksegesis komprehensif terhadap Roma 8:2 dan menjelaskan implikasinya bagi pembentukan paradigma eklesiologi transformasional, yakni model gereja yang hidup oleh kuasa Roh dan menghadirkan transformasi dalam kehidupan. Kajian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur melalui analisis eksegesis, historis, linguistik, dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roma 8:2 mengungkapkan lima dimensi teologis fundamental: realitas soteriologis definitif, pneumatologi transformasional, kristologi inklusif, hamartologi sistemik, dan eskatologi “sudah–belum sepenuhnya.” Temuan ini menunjukkan bahwa gereja perlu dipahami sebagai komunitas eskatologis yang hidup dalam “hukum Roh kehidupan,” bukan sekadar institusi religius. Kesimpulan mengonfirmasi bahwa pembebasan melalui karya Roh Kudus dalam Roma 8:2 membentuk fondasi eklesiologi transformasional yang mampu menjawab krisis spiritual, moral, dan sosial gereja kontemporer.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Raden Hastara Endy Prasetyo, Suhadi https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/617 INTEGRASI EKLESIOLOGI DAN MISIOLOGI BERDASARKAN 1 PETRUS 2:9 DALAM PENUNTASAN AMANAT AGUNG 2026-04-21T06:30:51+00:00 Eklesia Abdiel Natanael Ekel eklesnatanael96@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi antara eklesiologi dan misiologi berdasarkan 1 Petrus 2:9 dalam konteks penuntasan Amanat Agung. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak gereja menghadapi tantangan dalam memahami identitas dan panggilannya sebagai umat Allah yang diutus untuk memberitakan Injil. Ayat 1 Petrus 2:9 menegaskan bahwa gereja dipilih bukan hanya untuk menjadi komunitas ibadah, tetapi juga sebagai agen misi yang memancarkan terang Kristus kepada dunia. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan teologis-biblis, melalui analisis teks Alkitab, studi literatur, dan refleksi teologis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman eklesiologis yang kuat akan identitas gereja sebagai umat pilihan Allah menjadi dasar bagi pelaksanaan misi yang efektif. Gereja yang memahami hakikatnya sebagai “imamat yang rajani” akan lebih siap menjalankan panggilan misioner secara holistik. Kontribusi penelitian ini terletak pada upaya memperkuat paradigma gereja yang missional, yakni gereja yang tidak berfokus pada dirinya sendiri, tetapi aktif terlibat dalam misi Allah (<em>Missio Dei</em>) untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Eklesia Abdiel Natanael Ekel https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/601 MANAJEMEN PROGRAM PELAYANAN GEREJA 2026-03-05T04:36:27+00:00 ferry irwanto 240866.fr@gmail.com Mega Fergie mega.fergie2014@gmail.com <p>Manajemen program dan event merupakan unsur penting dalam menunjang efektivitas dan keberlanjutan pelayanan gereja. Program yang dikelola dengan baik tidak hanya membantu tercapainya tujuan pelayanan, tetapi juga menjaga keterlibatan serta kesehatan pelayanan para relawan. Namun, dalam praktiknya, banyak gereja masih menghadapi persoalan dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik manajemen program dan event dalam organisasi gereja melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah observasi partisipatif, di mana peneliti terlibat sebagai relawan pelayanan sekaligus pengamat reflektif, serta wawancara semi-terstruktur terhadap beberapa informan kunci yang terdiri dari ketua panitia, koordinator pelayanan, dan majelis pendamping. Lokasi penelitian adalah sebuah gereja perkotaan yang disamarkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya sejumlah persoalan utama, antara lain ketidakjelasan tujuan program, penempatan relawan yang tidak berbasis kemampuan, koordinasi dan komunikasi yang bersifat informal, ketidakseimbangan beban kerja relawan, serta evaluasi program yang cenderung bersifat formalitas tanpa tindak lanjut. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem manajemen program gereja melalui perumusan tujuan yang jelas, penempatan relawan berbasis kompetensi, penyusunan SOP sederhana, pelatihan manajemen dan kepemimpinan bagi koordinator serta majelis, serta penerapan evaluasi program sebagai proses pembelajaran organisasi yang berkelanjutan.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Mega Fergie, ferry irwanto https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/620 KAJIAN PSIKOLOGIS-TEOLOGIS DALAM MERESPONS KRISIS KECERDASAN SPIRITUAL GENERASI ALPHA 2026-05-06T06:56:47+00:00 Faahakhododo Halawa faahakhododohalawa3@gmail.com Sandra Rosiana Tapilaha sandra.lawalata@gmail.com <p>Krisis kecerdasan spiritual di kalangan Generasi Alpha menjadi salah satu isu penting dalam konteks perkembangan manusia di era digital. Hal ini ditandai dengan menurunnya kesadaran akan tujuan hidup, melemahnya kesadaran spiritual dan relasi dengan Tuhan, serta terkikisnya nilai-nilai transendental akibat penggunaan teknologi yang tidak seimbang dan berkembangnya budaya instan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pneumatologi sebagai respons terhadap krisis kecerdasan spiritual yang dialami Generasi Alpha melalui pendekatan psikologis-teologis. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (<em>library research</em>) dengan meninjau berbagai sumber literatur yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pneumatologi memainkan peran sentral dalam membentuk kecerdasan spiritual, khususnya dalam menumbuhkan kesadaran diri, kepekaan moral, dan relasi yang mendalam dengan Tuhan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengintegrasikan kajian pneumatologi dengan pendekatan psikologis-teologis sebagai model pembentukan kecerdasan spiritual Generasi Alpha.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Faahakhododo Halawa, Sandra Rosiana Tapilaha https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/548 PERSEMBAHAN KUDUS BAGI TUHAN 2026-05-11T07:24:58+00:00 Afrina Jeliyanti Sirait afrinasirait4@gmail.com Raulina raulina@stt-hkbp.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis yang terkandung dalam persembahan persepuluhan yang dijelaskan dalam Imamat 27:30-33, di mana persembahan persepuluhan merupakan suatu bentuk pengakuan atas kepemilikan Allah atas segala sesuatu. Masalah utama yang akan dikaji adalah kecenderungan timbulnya mispersepsi terhadap persembahan persepuluhan yang menyatakan bahwa persembahan harus selalu sepuluh persen, sehingga dianggap memberatkan jemaat yang mengakibatkan hilangnya esensi dari persembahan, yakni memberi dengan sukacita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis kritis, dengan menganalisis bahasa asli dari teks dan terjemahan harfiah, serta berbagai sumber akademik dan literatur yang membahas tentang persembahan persepuluhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan tidak hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga merupakan sebuah panggilan untuk hidup dalam integritas dan rasa tanggung jawab sosial. Dengan memahami nilai-nilai ini, jemaat dapat lebih berkontribusi positif terhadap masyarakat dan menciptakan dampak yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Afrina Jeliyanti Sirait, Raulina https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/536 MENGUCAP SYUKUR 2025-11-07T04:24:09+00:00 Elsia Yumar elsiayumar@gmail.com Syani Bombongan Rante Salu elsiayumar@gmail.com <p>Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang mengalami fenomena <em>Fear of Missing Out (FoMO)</em>, yaitu perasaan cemas atau kekhawatiran berlebih ketika merasa tertinggal terhadap suatu hal yang sedang populer maupun perkembangan tertentu. Fenomena ini berpotensi memicu krisis identitas karena individu dapat kehilangan pemahaman terhadap jati dirinya akibat terlalu berfokus pada kehidupan orang lain serta mencari validasi dari lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan nilai mengucap syukur dalam segala hal berdasarkan 1 Tesalonika 5:18 sebagai salah satu pendekatan dalam mencegah terjadinya krisis identitas sebagai dampak dari fenomena <em>FoMO</em>. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, yaitu dengan menganalisis berbagai sumber literatur seperti buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana makna dari perintah “mengucap syukurlah dalam segala hal” berdasarkan 1 Tesalonika 5:18? Serta bagaimana implementasi nilai tersebut dalam mencegah terjadinya krisis identitas pada individu yang mengalami dampak <em>FoMO</em>? Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai mengucap syukur yang terkandung dalam 1 Tesalonika 5:18 bukan hanya merupakan ajakan untuk memiliki pola pikir positif, melainkan sebuah perintah Allah bagi kehidupan orang percaya. Mengucap syukur dalam segala hal berarti mampu menerima setiap keadaan dalam kehidupan sebagai bagian dari anugerah Tuhan tanpa terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Dengan menghidupi sikap bersyukur, seseorang dapat membangun pemahaman yang benar terhadap identitas dirinya serta menyadari bahwa kehidupannya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Elsia Yumar, Syani Bombongan Rante Salu https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/521 PERAN PEREMPUAN DALAM MISI GEREJA 2025-10-27T02:05:55+00:00 Tarisih tarisih2021@gmail.com Antonius Missa missa_anton74@yahoo.com <p>Kehidupan gereja telah mengalami perubahan besar sebagai akibat dari perkembangan era digital, terutama dalam hal bagaimana misi dan pelayanan dilakukan. Perempuan semakin aktif dalam pelayanan pastoral, penginjilan, pendidikan iman, pelayanan sosial, dan penggunaan media digital sebagai sarana penginjilan dan pelayanan di lingkungan ini. Namun, penelitian ini menemukan bahwa pemahaman teologis tentang kesetaraan dalam <em>Missio Dei</em> dengan praktik gereja berbeda, dan budaya patriarki terus berdampak padanya. Selain itu, wanita tidak cocok untuk pengambilan keputusan dan kepemimpinan. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis peran perempuan dalam misi gereja di era digital dari perspektif teologi dan misiologi. Studi ini juga menyelidiki masalah dan peran perempuan modern dalam pelayanan gereja. Studi pustaka ini menggunakan pendekatan deduktif dan kualitatif. Banyak karya tentang teologi misi, teologi feminis, dan pelayanan digital gereja dikaji. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan berperan penting dalam melaksanakan misi gereja, terutama dengan menggunakan media sosial, komunitas virtual, pelayanan online, dan membuat materi rohani di era digital. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa rekonstruksi teologi misi harus dilakukan dengan cara yang lebih inklusif, kontekstual, dan transformatif agar gereja dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan Misi Dei. Karena itu, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi gereja saat ini dalam membangun pelayanan yang relevan, inklusif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Tarisih, Antonius Missa https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/411 PERSELINGKUHAN DAUD 2026-04-28T02:35:05+00:00 Benedictus Gerald geraldbenedictus@gmail.com Bernadus Dirgaprimawan dirgasj@usd.ac.id <p>Kisah Daud dan Batsyeba adalah kisah yang terkenal karena merupakan tindakan perzinahan. Narator Kitab Suci banyak mengisahkan bahwa Daud menjadi dalang utama dari kisah perzinahan tersebut. Hal ini terlihat dari sikap Daud yang terjebak dalam zona nyamannya, mulai dari dia yang tidak turun ke medan perang, melihat Batyseba mandi, kemudian termakan nafsu untuk tidur dengannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kisah perselingkuhan Daud dengan Batsyeba, serta menelaah setiap tokoh yang telibat dalam kisah tersebut. Melalui metode analisis literer, penelitian ini melihat apakah Daud saja yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ataukah Batsyeba juga turut berperan aktif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak hanya Daud yang berperan atas peristiwa perselingkuhan tersebut. Kehadiran orang suruhan, panglima Yoab, bahkan Batsyeba itu sendiri adalah golongan “pelaku” yang turut terlibat dalam menciptakan sebuah dosa perselingkuhan. Tokoh-tokoh tersebut adalah salah satu point menarik yang peneliti temukan. Alur cerita yang terbentuk memperlihatkan bagaimana strategi baik yang digunakan Daud maupun Batsyeba berjalan dengan begitu matang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aspek pertobatan serta penyesalan Daud dan Batsyeba atas dosa mereka. Bahkan, garis keturunan mereka dipakai Allah untuk menghadirkan Yesus di dunia.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Benedictus Gerald, Bernadus Dirgaprimawan https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/619 RAJA PONTAS LUMBANTOBING SEBAGAI FIGUR ADAT DALAM KRISTENISASI DI TANAH BATAK 2026-04-23T15:19:57+00:00 Roymandani Manurung manurungdoli1301@gmail.com <p>Penelitian ini mengkaji peran Raja Pontas Lumbantobing sebagai pemimpin tradisional yang berpengaruh dalam proses kristianisasi di tanah Batak pada akhir abad ke-19. Sebagai pemimpin lokal yang dihormati, Raja Pontas tidak hanya terlibat dalam aspek sosial dan politik masyarakat, tetapi juga berperan dalam menjembatani tradisi budaya Batak dan ajaran Kristen yang diperkenalkan oleh misionaris Barat. Dengan menggunakan teori sosial dari Peter L. Berger, yang memandang agama sebagai produk konstruksi sosial dan budaya, serta gagasan Karl Marx tentang kekuasaan dan struktur sosial. Melalui analisis historis-sosiologis, studi ini mengungkap kepemimpinan Raja Pontas membentuk penerimaan komunitas Batak terhadap Kristen, serta bagaimana agama, adat istiadat, dan transformasi sosial saling terkait dalam konteks kolonialisme dan modernitas. Maka, hasil penelitian ini memberikan kontribusi pemikiran yang lebih dalam tentang interaksi antara kekuasaan, budaya, dan perubahan agama dalam masyarakat Batak.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Roymandani Manurung https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/627 MEREKONSTRUKSI PARADIGMA KEPEMIMPINAN PENDETA SEBAGAI MORAL EXEMPLAR TRANSFORMATIF DARI PIETER VOS DAN JOANNE B. CIULLA 2026-05-13T04:16:01+00:00 Andrian Raja Nagur Purba andreagachipurba2000@gmail.com <p>Artikel ini membahas tantangan keteladanan dalam kepemimpinan gereja di Indonesia, khususnya terkait hubungan antara pembentukan karakter dan praksis penggunaan otoritas dalam kepemimpinan pendeta. Berbagai kajian kepemimpinan gereja selama ini cenderung memisahkan etika kebajikan yang menekankan pembentukan karakter dari teori kepemimpinan moral yang berfokus pada praksis relasional dan pengelolaan otoritas kepemimpinan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi kepemimpinan pendeta sebagai <em>moral exemplar</em> transformatif melalui dialog antara etika kebajikan dan kepemimpinan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode analitis-komparatif dan konstruktif untuk menganalisis pemikiran Pieter Vos dan Joanne B. Ciulla dalam melihat ketegangan antara pembentukan karakter dan praksis kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika kebajikan memiliki kekuatan dalam menjelaskan formasi karakter moral, tetapi kurang memadai dalam menjelaskan relasi kekuasaan dalam kepemimpinan, sedangkan teori kepemimpinan moral mampu menjelaskan praksis relasional kepemimpinan tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter moral pemimpin. Artikel ini berargumen bahwa kepemimpinan pendeta perlu dipahami sebagai <em>moral exemplar</em> transformatif, yaitu bentuk kepemimpinan yang menempatkan keteladanan sebagai <em>locus</em> integratif antara karakter, relasi, dan penggunaan kuasa dalam kepemimpinan. Konsep ini diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan studi kepemimpinan gereja, khususnya dalam menghadapi tantangan moral dan keteladanan dalam konteks kepemimpinan gereja di Indonesia.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Andrian Raja Nagur Purba https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/635 KERANGKA TEOLOGIS BAGI PENINGKATAN BERKESINAMBUNGAN (CONTINUOUS IMPROVEMENT) PADA UMKM KRISTEN DALAM UPAYA MISI MEMULIAKAN TUHAN 2026-05-27T04:44:55+00:00 Antonius Missa missa_anton74@yahoo.com Guru Sozuaon Simbolon gurusozu0329@gmail.com <p>Peningkatan berkesinambungan (<em>continuous improvement</em>) merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam pengembangan usaha untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan daya saing. Namun, kajian tentang <em>continuous improvement</em> pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) umumnya berangkat dari perspektif manajemen modern yang berfokus pada produktivitas dan kinerja ekonomi. Di sisi lain, UMKM Kristen tidak hanya berorientasi pada keberhasilan bisnis, tetapi juga pada panggilan spiritual untuk memuliakan Tuhan melalui aktivitas usaha. Permasalahan akademik yang muncul adalah belum tersedianya kerangka teologis yang secara sistematis mengintegrasikan prinsip <em>continuous improvement</em> dengan tujuan misi Kristen dalam konteks UMKM. Kesenjangan penelitian (<em>research gap</em>) terletak pada minimnya studi yang menghubungkan konsep peningkatan berkesinambungan dengan doktrin teologis seperti mandat budaya, penatalayanan (<em>stewardship</em>), panggilan (<em>calling</em>), dan misi Allah (<em>missio Dei</em>) sebagai landasan normatif bagi praktik bisnis Kristen. Penelitian ini bertujuan membangun kerangka teologis bagi peningkatan berkesinambungan pada UMKM Kristen dalam upaya misi memuliakan Tuhan. Metode yang digunakan adalah kajian konseptual dengan pendekatan teologi biblika dan integrasi literatur manajemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>continuous improvement</em> dapat dipahami sebagai bentuk respons iman yang diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab, pengembangan kualitas kerja yang berkelanjutan, pelayanan kepada sesama, serta kesaksian Kristen di dunia usaha. Kerangka yang dihasilkan menempatkan kemuliaan Tuhan sebagai tujuan utama, dengan prinsip penatalayanan, panggilan, dan transformasi sebagai fondasi teologis yang mengarahkan proses perbaikan berkelanjutan. Kontribusi ilmiah penelitian ini meliputi perumusan model konseptual yang mengintegrasikan teori <em>continuous improvement</em> dengan teologi Kristen, perluasan kajian teologi bisnis melalui landasan normatif bagi praktik UMKM Kristen, serta penyediaan kerangka analitis bagi penelitian empiris dan implementasi manajerial.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Antonius Missa, Guru Sozuaon Simbolon https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/621 MERENGKUH PENDERITAAN 2026-04-30T05:41:51+00:00 Novallick Justin Sundamen Elungan novallickjustin2110@gmail.com <p>Penderitaan di Indonesia bersifat struktural, terwujud dalam ketimpangan pendapatan, hambatan akses keadilan hukum, diskriminasi agama, dan marginalisasi gender. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan teori keadilan John Rawls dan teologi penderitaan John Piper sebagai respons intelektual dan etis terhadap realitas tersebut. Dari Rawls, penelitian ini menganalisis <em>original position, veil of ignorance</em>, prinsip kebebasan, <em>difference principle</em>, dan <em>overlapping consensus</em> sebagai kerangka prosedural-universal yang menuntut institusi dirancang demi kepentingan kelompok paling tidak beruntung. Dari Piper, penelitian ini menganalisis kedaulatan Allah atas penderitaan, penderitaan sebagai sarana kemuliaan Allah, <em>Christian Hedonism</em>, dan penderitaan sebagai panggilan konkret merespons sesama. Temuan menunjukkan bahwa integrasi keduanya bersifat komplementer sekaligus korektif: kerangka Rawls mencegah teologi Piper tergelincir menjadi <em>pietisme privat</em> yang abai terhadap struktur ketidakadilan, sementara teologi Piper mencegah prosedur Rawls menjadi mekanisme dingin yang mengabaikan dimensi spiritual penderitaan. Sintesis ini memanggil komunitas Kristen Indonesia untuk hadir bukan sekadar sebagai penyembuh luka, melainkan sebagai agen transformasi yang memadukan kedalaman rohani dengan keberanian struktural demi terwujudnya keadilan universal di tengah masyarakat majemuk</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Novallick Justin Sundamen Elungan https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/426 EDUTECH KRISTEN 2025-11-03T08:53:04+00:00 Risma Nubatonis rismanubatonis04@gmail.com Dyulius Thomas Bilo rismanubatonis04@gmail.com <p>Pesatnya perkembangan teknologi di era digital membawa tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan, terutama dalam membangun generasi yang tidak hanya cakap secara akademik tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Edutech Kristen dalam membentuk karakter dan meningkatkan kompetensi akademik Generasi Z dan Alpha. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengkaji bagaimana integrasi nilai-nilai Kristen dalam teknologi pendidikan dapat meningkatkan motivasi belajar, membangun kesadaran etika, serta mengembangkan keterampilan generasi Z dan Alpha seperti berpikir kritis, komunikasi, sosial dan kolaborasi atau kerja sama. Hasil penelitian menjadi bukti yang mengkonfirmasi bahwa penerapan Edutech Kristen secara signifikan berkontribusi terhadap pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran berbasis nilai, meningkatkan pemahaman akademik, serta memperkuat keterampilan sosial dan kognitif sehingga siswa yang hidup di kedua generasi ini lebih bijak dalam mengunakan perkembangan digital. Oleh karena itu, pengembangan dan penyempurnaan platform Edutech Kristen yang kreatif serta menarik secara berkelanjutan sangat diperlukan agar dapat diterapkan lebih luas dan memberikan manfaat yang optimal bagi dunia pendidikan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi metode pembelajaran holistik berbasis teknologi iman yang bukan hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga secara aktif membangun kesadaran spiritual dan kecakapan sosial melalui pengalaman belajar yang imajinatif, adaptif, dan relevan bagi Generasi Z dan Alpha. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan platform Edutech Kristen yang progresif dan berkelanjutan sebagai solusi strategis dalam membangun generasi yang unggul secara akademik, berkarakter kuat, dan bijak dalam menghadapi arus transformasi digital.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Risma Nubatonis, Dyulius Thomas Bilo https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/513 TEOLOGI DI ERA MESIN 2026-04-23T13:51:04+00:00 hendrik zebua hendrikirwansyazebua9@gmail.com Susiana Lase hendrikirwanzebua@gmail.com <p>Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin progresif menghadirkan transformasi besar dalam peradaban manusia sekaligus menimbulkan persoalan fundamental dalam teologi, khususnya berkaitan dengan konsep <em>Imago Dei</em> yang menegaskan manusia sebagai gambar Allah. Tujuan dari penelitian ini adalah menyingkap keterkaitan antara pemahaman Imago Dei dengan kemajuan AI, menganalisis dimensi etika teknologi dan tanggung jawab teologis dalam pengembangannya, serta menegaskan perbedaan hakiki antara kecerdasan buatan dan kapasitas spiritual manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu suatu pendekatan yang dilakukan dengan cara menelusuri dan memahami kembali secara kritis berbagai sumber yang ada. Research ini menemukan bahwa kecerdasan buatan, meskipun mampu meniru proses berpikir dan memfasilitasi kehidupan manusia, tetap tidak memiliki dimensi transendental yang memungkinkan relasi personal dengan Allah. Gagasan ini tidak dapat direduksi hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi mencakup kapasitas spiritual, moral, dan relasional yang unik bagi manusia. Oleh karena itu, keterlibatan teologi dalam diskursus teknologi menjadi mutlak supaya AI tidak menjadi ancaman yang mereduksi identitas manusia, melainkan sarana yang meneguhkan martabatnya sebagai gambar Allah serta memperluas cakrawala pemahaman tentang tanggung jawab manusia dalam mengelola ciptaan.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 hendrik zebua https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/632 IMPLEMENTASI DIGITAL STORYTELLING UNTUK MENSTIMULUS BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK 2026-05-20T06:42:57+00:00 Putri Barus Barus putribarus2244@gmail.com Mariani Meri Lumban Gaul merymarbun03@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi digital storytelling dalam menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SDN 105324 Ujung Serdang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Katolik, dan siswa kelas V SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi <em>digital storytelling</em> dilakukan melalui penggunaan cerita yang disajikan dengan bantuan media digital seperti gambar, video, suara, dan musik yang disesuaikan dengan materi pembelajaran. Guru menggunakan media digital berupa video pembelajaran, gambar ilustrasi, audio, dan presentasi visual yang ditampilkan melalui laptop dan proyektor dalam proses pembelajaran. Penggunaan <em>digital storytelling</em> mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta membantu siswa memahami materi dengan lebih baik. Selain itu, penerapan digital storytelling juga menunjukkan adanya stimulasi kemampuan berpikir kritis siswa yang terlihat dari kemampuan siswa dalam memahami inti permasalahan, memberikan alasan terhadap jawaban, menarik kesimpulan, menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, menjelaskan pendapat dengan bahasa sendiri, dan melakukan pengecekan ulang terhadap jawaban. Dengan demikian, digital storytelling dapat menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif dalam menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa pada Pendidikan Agama Katolik.</p> 2026-06-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Putri Barus Barus, Mariani Meri Lumban Gaul