https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/issue/feedDidache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen2025-12-21T10:05:23+00:00Dr. Sri Mulyanisri.mulyani@sttmoriah.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen</strong> (<strong>e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1563161367" target="_blank" rel="noopener">2715-2758</a></strong>) merupakan jurnal ilmiah teologi dengan perspektif Praktika Alkitabiah yang menjadi wadah ilmiah untuk jurnal akademik dengan multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Teologi Moriah bersama Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia. Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen telah<em><strong> terakreditasi di <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/8761" target="_blank" rel="noopener">SINTA Peringkat 4</a> berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor <a href="https://drive.google.com/file/d/1hNI7Y6_cQW8b-sYOWVagmx4LxQGclPbc/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">79/E/KPT/2023</a>, tertanggal 11 Mei 2023 </strong></em>dan anggota <a href="https://search.crossref.org/?q=Didache%3A+Jurnal+Teologi+dan+Pendidikan+Kristen&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">CrossRef</a>. <strong>Fokus dan Ruang Lingkup</strong> Artikel yang dimuat dalam <strong>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen</strong> memiliki fokus dan scope pada teologi dan pendidikan agama Kristen. Semua artikel yang telah diterima, maka diterbitkan ke dalam bahasa Inggris. Artikel yang submit ke dalam bahasa Indonesia, jika sudah diterima, maka akan diminta untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. <strong>Penerbitan jurnal</strong> ini akan dilakukan dalam satu tahun <strong>sebanyak dua kali terbit</strong> yaitu pada bulan <strong>Juni</strong> dan <strong>Desember</strong>.</p> <p> </p> <p><strong>Didache: Journal of Theology and Christian Education</strong> (e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1563161367" target="_blank" rel="noopener">2715-2758</a>) is a theological scientific journal with a Biblical Practice perspective which is a scientific forum for academic journals with scientific multidisciplinary issues published by the Institute for Research and Community Service (LPPM) Moriah Thelogical Seminary with the Association of Indonesian Christian Theologians. Didache: Journal of Theology and Christian Education has been accredited at SINTA Rank 4 based on the Decree of the Director General of Higher Education, Research and Technology, Ministry of Education, Culture, Research and Technology of the Republic of Indonesia Number <a href="https://drive.google.com/file/d/1hNI7Y6_cQW8b-sYOWVagmx4LxQGclPbc/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">79/E/KPT/2023</a>, dated May 11, 2023 and <a href="https://search.crossref.org/?q=Didache%3A+Jurnal+Teologi+dan+Pendidikan+Kristen&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">members CrossRef</a>. Focus and Scope Articles published in Didache: Journal of Christian Theology and Education have a focus and scope on Christian religious education. All articles that have been accepted are published in English. Articles that are submitted in Indonesian, if they are accepted, they will be asked to be translated into English. The publication of this journal will be published twice a year, namely in June and December.</p>https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/346DAMPAK TEKNOLOGI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MINAT BELAJAR SISWA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN2025-01-13T02:33:17+00:00Togar.SBertobat14@yahoo.comYusnidar Telaumbanuayusnidartel6@gmail.com<p><em>This study aims to investigate the extent of the relationship between learning media technology and students' interest in Christian Religious Education. Therefore, it's crucial to determine the precise effect of utilizing learning media technology on students' learning interest in Christian Religious Education. This study employs a quantitative approach with two variables: the application of technology in learning media and the increase in students' learning interest. The research was conducted by the author at SMP/SMA Tunas Karya-Kelapa Gading by distributing questionnaires to a sample of 42 students. The data processing methods used in this research included information from books and questionnaires. From these, the author obtained research results indicating that the application of learning media technology contributes 36.4% to the increase in students' learning interest at SMP/SMA Tunas Karya, Kelapa Gading, while the remainder is influenced by other factors. The implications of this study can be utilized by educators and policymakers to improve teaching methods by leveraging educational media technology. Thus, the goal is to create a better, more interactive, and effective learning environment that can enhance students' learning interest and academic achievement.</em></p> <p>Penelitian ini bermaksud menyelidiki seberapa besar hubungan teknologi media pembelajaran terhadap minat beajar siswa dalam Pendidikan Agama Kristen. Oleh karena itu, cukup penting untuk mengetahui efek yang akurat dari pemanfaatan teknologi media pembelajaran pada ketertarikan mengikuti kelas. Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan dua variabel, yaitu penerapan teknologi dalam media pembelajaran dan peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar. Penelitian dilakukan oleh penulis di SMP/SMA Tunas Karya-Kelapa Gading dengan menyebarkan angket kuesioner kepada 42 sampel murid. Metode yang digunakan dalam mengolah data diterapkan dalam melakukan penelitian meliputi informasi dari buku dan kuesioner. Dari hal tersebut, penulis memperoleh hasil penelitian yang dapat ditunjukan mengenai penerapan teknologi media pembelajaran menghasilkan sebesar 36,4% terhadap peningkatan minat belajar siswa di SMP/SMA Tunas Karya, Kelapa Gading, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Implikasi dari studi ini dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan metode pengajaran dengan memanfaatkan teknologi media pendidikan. Dengan demikian, sasarannya adalah agar terwujud proses pembelajaran yang lebih baik, interaktif, dan efektif, yang bisa meningkatkan minat belajar serta prestasi siswa.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Togar.S, Yusnidar Telaumbanuahttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/382KEADILAN SOSIAL DAN INJIL: MEMAHAMI PERAN GEREJA DALAM ERA KETIDAKSETARAAN2025-10-21T02:38:23+00:00Alvin Budiman Kristianalvinforeducation@gmail.com<p>In an increasingly complex society, where social inequality has become a pressing issue requiring serious attention, the church, as a religious institution, has great potential to contribute to the creation of a more just and equitable society. This study aims to explore how the church can be at the forefront of social justice by integrating the principles of the Gospel into concrete actions. This research uses a qualitative approach with a literature study method to examine theological and social theories about social justice, as well as the role of the church in addressing inequality. The results of this study show that the church has a moral responsibility to educate its congregation on social justice and encourage them to engage in social activities that combat inequality. Through skills training, economic empowerment, and advocacy for just policies, the church can play a crucial role in creating positive social change. The study also emphasizes the importance of collaboration between the church, social institutions, and the government to achieve common goals in combating inequality. With an approach based on the teachings of the Gospel, the church is expected to make a significant contribution to creating a more just and equitable world.</p> <p>Dalam masyarakat yang semakin kompleks dengan ketidaksetaraan sosial menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius, dan gereja sebagai institusi keagamaan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana gereja dapat menjadi ujung tombak keadilan sosial dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip Injil ke dalam tindakan konkret Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk menggali teori-teori teologis dan sosial mengenai keadilan sosial, serta peran gereja dalam mengatasi ketidaksetaraan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi jemaatnya mengenai keadilan sosial dan mendorong mereka untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang memerangi ketidaksetaraan. Melalui pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kebijakan yang adil, gereja dapat memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah untuk mewujudkan tujuan bersama dalam memerangi ketidaksetaraan. Dengan pendekatan yang berbasis pada ajaran Injil, gereja diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.</p> <p> </p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Alvin Budiman Kristianhttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/402PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN DIGITAL PARENTING DI ERA 5.02025-10-21T02:48:00+00:00Hendrik Legihendriklegi83@gmail.comMaleachi Riwuwamoantonius@gmail.comDevarsh Gevariel Dean Legi Legigevariellegi@gmail.com<p><em>The development of digital technology in the era of society 5.0 has had a major impact on the pattern of education and parenting of children, including in Christian families. This era demands the integration of artificial intelligence and human values, which poses a serious challenge in maintaining the faith, character, and morals of the younger generation. In the midst of increasingly complex technological trends, the role of Christian Religious Education (PAK) and digital parenting patterns are becoming increasingly important and inseparable. This study aims to examine how PAK can synergize with digital parenting to form a strong children's character in faith and digital wisdom. This research uses a qualitative approach with the literature study method (library research). Data was collected through analysis of theological sources, Christian education books, scientific articles, and documents related to parenting and technological developments in the 5.0 era. The analysis is carried out in a descriptive and theological hermeneutic manner to interpret the relevance of faith values in today's digital context. The theoretical basis of this research includes the principles of education in the family according to the Bible (Proverbs 22:6, Deuteronomy 6:6-9), the concept of digital parenting , and the understanding of society 5.0. The results of the study show that the integration between PAK and digital parenting can create a parenting pattern that not only protects children from the negative influence of technology, but also shapes them into spiritually resilient individuals, wise in using technology, and able to be bright in the digital world. Collaboration between families, churches, and schools is the key to delivering a relevant and transformative educational model in this digital era.</em></p> <p>Perkembangan teknologi digital dalam era masyarakat 5.0 membawa dampak besar terhadap pola pendidikan dan pengasuhan anak, termasuk dalam keluarga Kristen. Era ini menuntut integrasi antara kecerdasan buatan dan nilai-nilai kemanusiaan, yang menimbulkan tantangan serius dalam menjaga iman, karakter, dan moral generasi muda. Di tengah arus teknologi yang semakin kompleks, peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan pola digital parenting menjadi semakin penting dan tidak terpisahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana PAK dapat bersinergi dengan digital parenting guna membentuk karakter anak yang kuat secara iman dan bijak secara digital . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research). Data dikumpulkan melalui analisis terhadap sumber-sumber teologis, buku pendidikan Kristen, artikel ilmiah, serta dokumen terkait parenting dan perkembangan teknologi era 5.0. Analisis dilakukan secara deskriptif dan hermeneutik teologis untuk menafsirkan relevansi nilai-nilai iman dalam konteks digital masa kini. Landasan teoritis penelitian ini mencakup prinsip-prinsip pendidikan dalam keluarga menurut Alkitab (Amsal 22:6, Ulangan 6:6-9), konsep digital parenting , serta pemahaman masyarakat 5.0. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi antara PAK dan digital parenting dapat menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya melindungi anak dari pengaruh negatif teknologi, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang tangguh secara spiritual, bijak dalam menggunakan teknologi, dan mampu menjadi terang di dunia digital . Kolaborasi antara keluarga, gereja, dan sekolah menjadi kunci utama dalam menghadirkan model pendidikan yang relevan dan transformatif di era digital ini.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hendrik Legi, Maleachi Riwu, Devarsh Gevariel Dean Legi Legihttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/409INTEGRASI TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK SEKOLAH MINGGU2025-10-21T02:55:31+00:00Adelsi Kaseadelsikase2800@gmail.comMartinus Duryadiduryadiagustus18@gmail.com<p><em>Rapid technological developments provide great opportunities in the world of education, including in Christian Religious Education (PAK). This study aims to see how technology integration can be utilized effectively in the learning process of Sunday School children in order to shape their character and spirituality from an early age. Through a qualitative approach with literature studies, it was found that the use of digital media such as interactive videos, children's Bible applications, and online learning tools can increase children's interest involvement, strengthen their understanding of Christian values, and grow their spiritual awareness in a fun way. However, the success of this integration is highly dependent on the active role of Sunday School teachers in designing appropriate materials and accompanying the learning process wisely. Thus, the integration of technology in PAK is not only an innovative tool, but also an important strategy in forming children's character and spirituality holistically.</em></p> <p>Perkembangan teknologi yang pesat memberikan peluang besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana integrasi teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif dalam proses pembelajaran anak Sekolah Minggu guna membentuk karakter dan spiritualitas mereka sejak usia dini. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, ditemukan bahwa penggunaan media digital seperti video interaktif, aplikasi Alkitab anak, dan sarana pembelajaran daring mampu meningkatkan keterlibatan minat anak, memperkuat pemahaman nilai-nilai Kristen, serta menumbuhkan kesadaran rohani mereka secara menyenangkan. Namun, keberhasilan integrasi ini sangat bergantung pada peran aktif guru Sekolah Minggu dalam merancang materi yang tepat dan mendampingi proses belajar secara bijak. Dengan demikian, integrasi teknologi dalam PAK tidak hanya menjadi sarana inovatif, tetapi juga strategi penting dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak secara holistik.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Adelsi Kase, Martinus Duryadihttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/421KESELAMATAN DALAM PAHAM KRISTEN PROGRESIF (KAJIAN TEOLOGI LUTHERAN DAN KONFESSI AUGSBURG PASAL IV)2025-10-21T03:05:09+00:00Herrio Tekdi Nainggolanherrio911@gmail.comArio Manaluaryo93957@gmail.com<p><em>The doctrine of salvation, as a central theme in Christian theology, continues to spark debate across traditions. Lutheran theology and Article IV of the Augsburg Confession present a well-defined doctrine of salvation grounded in God’s grace through faith in Christ. In contrast, Progressive Christianity views salvation not merely as belief in Christ but as a continuous process of moral and social transformation accessible to all humanity, without requiring explicit confession of Jesus as the only way. This study examines how the Progressive Christian understanding of salvation interacts with Lutheran theology and the Augsburg Confession Article IV. Using a qualitative, comparative-doctrinal approach, the research analyzes their theological emphases and implications. The findings reveal a shared conviction that salvation is God’s liberating work that restores humanity’s relationship with the Divine. Yet, significant differences remain: Lutheran theology centers on sola fide, sola gratia, and sola scriptura as the basis of justification, while Progressive Christianity emphasizes existential and social renewal as expressions of divine redemption. This study contributes to contemporary theological discourse by inviting deeper reflection on the relevance of Reformation theology for interpreting salvation within the diverse and plural context of faith in Indonesia.</em></p> <p>Doktrin keselamatan sebagai salah satu inti ajaran Kristen merupakan topik yang terus diperdebatkan dalam berbagai tradisi teologi. Teologi Lutheran dan Konfessi Augsburg IV cukup mapan merampungkan konsep keselamatan dalam doktrinnya. Sementara, bagi paham Kristen Progresif keselamatan tidak semata-mata bergantung pada iman, melainkan merupakan proses transformasi moral dan sosial yang dapat dialami semua manusia tanpa harus melalui pengakuan eksplisit terhadap Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep keselamatan dalam paham Kristen Progresif diperhadapkan dengan ajaran Lutheran dan Konfessi Augsburg Pasal IV. Artikel ini bertujuan menganalisis dan membandingkan pandangan Kristen Progresif dengan ajaran Teologi Lutheran serta Konfessi Augsburg Pasal IV tentang keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan komparatif-doktrinal. Hasil kajian menunjukkan bahwa doktrin keselamatan dalam teologi Lutheran dan paham Kristen Progresif memiliki titik temu dalam pengakuan bahwa keselamatan adalah karya Allah yang membebaskan manusia dari dosa dan memulihkan relasi dengan-Nya. Namun, keduanya menempuh penekanan yang berbeda: Lutheran menekankan <em>sola fide, sola gratia dan sola scriptura</em> sebagai inti pembenaran, sedangkan Kristen Progresif melihat keselamatan sebagai transformasi eksistensial dan sosial. Temuan ini diharapkan memperkaya wacana teologi keselamatan kontemporer untuk melakukan kajian lebih lanjut dalam memaknai relevansi teologi reformasi dalam konteks “beriman di Indonesia”.</p> <p> </p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Herrio Tekdi Nainggolan, Ario Manaluhttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/466KAJIAN TEOLOGIS KAUM MARGINAL DALAM KONTEKS MELAYANI YANG TAK TERLAYANI2025-06-05T08:04:45+00:00Antonius Missamissa_anton74@yahoo.comDemrikel Donna Selledemrikelselle@gmail.com<p><em>This article discusses the theological basis for ministry to the marginalized and reminds us that the task and responsibility of the church is to serve the underserved. By analyzing biblical texts and conducting theological reflection, this article asserts that service to the marginalized is not merely a social service task, but a manifestation of God's mission in the world. This research uses qualitative methods by referring to theological literature that supports this research to strengthen the understanding that the church has an obligation to be present in the context of social injustice, not just as an observer, but as an agent of change. The Bible consistently shows God's solidarity with the marginalized (e.g., Psalm 146:7-9; Isaiah 61:1-2; Luke 4:18-19). Service to the marginalized is more than an act of charity, but a concrete expression of the presence of the Kingdom of God on earth. In this regard, the church is called not only to be concerned with spiritual matters, but also to actively serve them. This theological commitment to the marginalized reflects God's nature of love and justice. Every form of service to the oppressed is not only an act of love from human beings as social creatures towards one another but has theological meaning as the actualization of the values of the Kingdom of God in this world.</em></p> <p>Artikel ini membahas landasan teologis untuk pelayanan kepada kaum marginal yang terpinggirkan serta mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab gereja adalah melayani mereka yang tidak terlayani. Dengan menganalisis teks-teks Alkitab dan melakukan refleksi teologis, artikel ini menegaskan bahwa pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan bukan sekadar tugas pelayanan sosial, tetapi merupakan manifestasi dari misi Allah di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan merujuk pada literatur teologi yang mendukung penelitian ini untuk memperkuat pemahaman bahwa gereja memiliki kewajiban untuk hadir dalam konteks ketidakadilan sosial, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai agen perubahan. Alkitab secara konsisten menunjukkan solidaritas Allah kepada kaum marginal (misalnya, Mazmur 146:7-9; Yesaya 61:1-2; Lukas 4:18-19). Pelayanan kepada kaum marginal lebih dari sekadar perbuatan amal, tetapi merupakan merupakan ekspresi konkret dari kehadiran Kerajaan Allah di bumi. Dalam hal ini, gereja dipanggil untuk tidak hanya memperhatikan hal-hal spiritual, tetapi juga harus secara aktif melayani mereka. Komitmen teologis terhadap mereka yang terpinggirkan ini mencerminkan sifat dasar Allah yang penuh dengan kasih dan keadilan. Setiap bentuk pelayanan kepada mereka yang tertindas tidak hanya merupakan tindakan kasih dari manusia sebagai makhluk sosial terhadap sesamanya tetapi memiliki arti teologis yaitu sebagai aktualisasi nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam dunia ini.</p> <p> </p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Antonius Missa, Demrikel Donna Sellehttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/484Kepemimpinan Pelayan Sebagai Tanggung Jawab Etis di Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ)2025-10-23T05:15:00+00:00Ones Mahanugra onesmarcer@gmail.com<p><em>This article addresses the ongoing challenges in church leadership caused by leaders lacking a proper understanding of servant leadership, which affects ethical decision-making within the church. The article aims to clarify the concept of servant leadership and the ethical challenges faced by church leaders in the Christian Churches of Java (GKJ) using an interpretive approach. It is hoped that by understanding servant leadership, these issues can be addressed practically within the church. Based on findings from the Akta Sidang Sinode GKJ XXVII-XXIX, various issues of church leadership are still found, stemming from personal ethical problems, actions that do not reflect transformative pastoral principles, and collective-collegial issues. To tackle these issues, church leaders should embrace their role as servants fulfilling God's will, prioritizing the empowerment of the congregation and fostering community to promote the growth of GKJ at the local, Classis, and Synod levels.</em></p> <p>Melihat persoalan kepemimpinan gerejawi yang masih terus terjadi akibat dari para pemimpin gerejawi yang kurang memahami bentuk kepemimpinan pelayan sehingga berdampak pada ketidaksesuaian dalam mengambil keputusan etis di gereja mendorong penulis untuk menulis artikel ini. Tujuan dari artikel ini adalah mengungkap pemahaman kepemimpinan pelayan serta menguraikan pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi di Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dengan metode interpretatif sehingga melalui pemahaman kepemimpinan pelayan berguna untuk mengatasi pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi secara praktis dalam kehidupan gereja. Berdasarkan hasil temuan dalam Akta Sidang Sinode GKJ XXVII – XXIX masih ditemukan berbagai persoalan kepemimpinan gerejawi yang disebabkan dari persoalan etis personal, tindakan yang tidak mencerminkan prinsip pastoral transformatif serta persoalan kolektif-kolegial. Dalam upaya mengatasi persoalan-persoalan tersebut, hendaknya para pemimpin gerejawi memposisikan diri sebagai pelayan atau hamba yang melayani kehendak Allah sehingga mengutamakan pemberdayaan jemaat dan senantiasa mengupayakan ikatan kebersamaan dalam menjaga dan mengusahakan berkembangnya GKJ dalam lingkup lokal, Klasis, maupun Sinode.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ones Mahanugra https://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/495LANDASAN TEOLOGIS MANAJEMEN DALAM GEREJA : FONDASI PELAYANAN YANG EFEKTIF DAN BERINTEGRITAS2025-10-21T02:57:08+00:00Dany Lumban Tobingdany.edly@gmail.comYudha Nata Saputradany.edly@gmail.com<p><em>Church management is a crucial aspect in supporting the success of the church's ministry as the body of Christ in the world. However, church management cannot be separated from the theological foundation that underpins the values, principles, and direction of every church policy and action. This article discusses the importance of integrating modern management principles with theological values derived from the Bible, both the Old and New Testaments. This study outlines the theological principles of biblical figures such as God, Moses, Joseph, Nehemiah, Jesus, and the apostles, demonstrating the spiritual and strategic application of management. Management functions such as planning, organizing, staffing, directing, implementing, and supervising are discussed within the church context using a biblical approach. This article also highlights the challenges churches face in implementing theologically sound management, such as maintaining spiritual integrity, addressing differences in perception, limited resources, and the dynamics of social and technological change. The research method used in this study is a literature review, examining how the theological foundation in church management serves as a crucial foundation for effective and integrated ministry. The findings indicate that churches need a sound management system based on Christian teachings to ensure their services remain relevant, effective, and faithful to their primary mission of glorifying God and serving others.</em></p> <p>Manajemen gereja merupakan aspek penting dalam mendukung keberhasilan pelayanan gereja sebagai tubuh Kristus di tengah dunia. Namun, manajemen gereja tidak dapat dilepaskan dari landasan teologis yang menjadi fondasi nilai, prinsip, dan arah setiap kebijakan serta tindakan gerejawi. Artikel ini membahas pentingnya integrasi antara prinsip manajemen modern dengan nilai-nilai teologis yang bersumber dari Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Studi ini menguraikan prinsip-prinsip teologis dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Allah, Musa, Yusuf, Nehemia, Yesus, dan para rasul yang menunjukkan penerapan manajemen secara rohani dan strategis. Fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, pelaksanaan, dan pengawasan dibahas dalam konteks gereja dengan pendekatan alkitabiah. artikel ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi gereja dalam menerapkan manajemen berlandaskan teologi, seperti menjaga integritas rohani, menghadapi perbedaan persepsi, keterbatasan sumber daya, serta dinamika perubahan sosial dan teknologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitan ini adalah studi kepustakaan yang melihat bagaimana landasan teologis dalam manajemen gereja menjadi dasar penting bagi fondasi pelayan yang efektif dan berintergritas. Hasil temuan bahwa gereja perlu memiliki sistem manajemen yang baik dan berbasis pada ajaran iman Kristen, agar pelayanan tetap relevan, efektif, dan tetap setia pada misi utama yaitu memuliakan Tuhan dan melayani sesama.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dany Lumban Tobing, Yudha Nata Saputrahttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/515Pendidikan Agama Kristen Sebagai Pendekatan Dalam Pembentukan Karakter Siswa SMA Kristen Nehemia Galela Di Era Digital2025-11-03T02:08:20+00:00Marton Tasiringanmartontasiringan1@gmail.comIlona Ervvina Hohakayhohakayi@gmail.com<p><em>The purpose of this study is to analyze the character formation of students at Nehemia Galela Christian High School, and analyze Christian Religious Education as an Approach in character formation of students at Nehemia Galela Christian High School digitally so that students have Christian characters namely intelligent, caring, dignified, spiritually disciplined, faithful, pious to God, and responsible (cf. Exodus 20:12; Ephesians 6:1-3; Colossians 3:20). This study uses a qualitative method. Qualitative research methods are methods for investigating and interpreting humanitarian problems by involving questions, data collection mechanisms, identifying and analyzing field data and interpreting the findings descriptively. The findings are that the process of character formation of students at Nehemia Galela Christian High School is through classroom learning with Christian religious subjects, giving advice and motivation in morning and afternoon assemblies, giving students assignments to make worship journals, student council worship, choosing inspiring memorization verses, and watching spiritual videos. The obstacles experienced in the formation of student character are the lack of cooperation between teachers and parents, internal and external influences. So it can be concluded that learning tools, school equipment and strategies are neat and ideal both nationally and internally but there is no cooperation between teachers and parents and no moral awareness of students then the formation of student character which is the goal of the school will be in vain and will not succeed.</em></p> <p> </p> <p>Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pembentukan karakter siswa di SMA Kristen Nehemia Galela, dan menganalisis PAK Sebagai Pendekatan dalam membentukan karakter siswa di SMA Kristen Nehemia Galela di digital agar siswa memiliki karakter Kristen yakni cerdas, peduli, bermartabat, disiplin rohani, beriman, bertaqwa kepada Tuhan, dan bertanggung jawab (bdk. Keluaran 20:12; Efesus 6:1-3; Kolose 3: 20). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena menyelidiki dan memaknai masalah kemanusian dengan melibatkan pertanyaan, mekanisme mengumpulkan data, mengidentifikasi dan menganalisis data lapangan dan menginterpretasi hasil temuan secara deskriptif. Hasil temuannya adalah bahwa proses pembentukan karakter siswa di SMA Kristen Nehemia Galela adalah melalui pembelajaran kelas dengan mata pelajaran agama Kristen, memberi nasihat dan motivasi dalam apel pagi dan siang, memberi tugas kepada siswa membuat jurnal ibadah, ibadah osis, memilih ayat hafalan yang menginspirasi, dan menonton video rohani. Kendala yang dialami dalam pembentukan karakter siswa adalah tidak ada kerja sama antara guru dengan orang tua, pengaruh internal dan eksternal. Maka dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran, perangkat sekolah dan strategi yang rapih dan ideal baik secara nasional maupun internal sekolah tapi tidak ada kerja sama antara guru dan orang tua dan tidak ada kesadaran moral siswa maka pembentukan karakter siswa yang adalah tujuan sekolah menjadi sia-sia dan tidak akan berhasil.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Marton Tasiringan, Ilona Ervvina Hohakayhttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/516KITAB KELUARAN: EKOLOGI DAN KEBERLANJUTAN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGIS2025-11-07T07:06:47+00:00Benediktus James Widya Darmakabenediktusdarmakajurnal@gmail.comEtty Justiana SaragihEttysaragih2@gmail.comAngely Nuh Tanteroangely_redbox@yahoo.com<p><em>This research investigates the theological perspective of ecology and sustainability as reflected in the Book of Exodus, in response to urgent contemporary environmental crises such as climate change, biodiversity loss, and ecological degradation. The study aims to explore how principles of creation care embedded in Exodus—such as the Sabbath year and holistic respect for the land—can inform modern ecological ethics and sustainable practices. Using a qualitative methodology, the research combines biblical text analysis with case studies and statistical data to reveal the practical relevance of theological values in promoting ecological responsibility. The findings show that Exodus not only provides moral guidance but also offers applicable frameworks for sustainable agriculture, conservation, and community-based ecological initiatives. The novelty of this study lies in bridging ancient theological insights with modern sustainability practices, offering an integrative model that connects spirituality, ecological ethics, and practical sustainability.</em></p> <p> </p> <p>Penelitian ini mengkaji perspektif teologis tentang ekologi dan keberlanjutan sebagaimana tercermin dalam Kitab Keluaran, sebagai respons terhadap krisis lingkungan kontemporer seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana prinsip pemeliharaan ciptaan yang terdapat dalam Keluaran seperti tahun Sabat dan penghormatan holistik terhadap tanah dapat menjadi dasar etika ekologis dan praktik keberlanjutan modern. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis teks biblika yang dipadukan dengan studi kasus dan data statistik untuk menunjukkan relevansi praktis nilai teologis dalam mendorong tanggung jawab ekologis. Hasil penelitian menegaskan bahwa Kitab Keluaran tidak hanya memberi pedoman moral, tetapi juga menawarkan kerangka praktis untuk pertanian berkelanjutan, konservasi, dan inisiatif ekologis berbasis komunitas. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya menjembatani wawasan teologis kuno dengan praktik keberlanjutan modern, sehingga menghadirkan model integratif yang menghubungkan spiritualitas, etika ekologi, dan keberlanjutan praktis.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Benediktus James Widya Darmaka, Etty Justiana Saragih, Angely Nuh Tanterohttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/522KETIKA GEREJA TURUN KE LEMBAH LUKA: MENYINGKAP PERAN CARITAS LARANTUKA DALAM PEMULIHAN KORBAN BENCANA LEWOTOBI DALAM TERANG PASTORAL KONSELING2025-10-28T07:31:23+00:00Maximus Manuichanpryatno@gmail.comEmanuel Rizan Pryatnoichanpryatno@gmail.comKornelius Afran Guruichanpryatno@gmail.com<p><em>The Mount Lewotobi eruption disaster on November 4, 2024 has attracted the attention of many parties, including the Caritas Larantuka institution. Since the incident occurred, this institution has been involved in advocating for the victims. Viewed from a pastoral counseling perspective, for the author, Caritas Larantuka's involvement is not just a social response. However, it represents the presence of a shepherd (counselor) to restore the victims' (clients') wounds. This study uses a qualitative method with a case study approach. The results show that the Caritas Larantuka institution has contributed to overcoming the wounds of the victims of the Mount Lewotobi eruption disaster. In a fast and collaborative work system, this institution is present like a counselor who gets closer to the victims. It is present to restore the trauma and wounds of the victims.</em></p> <p><em>Bencana letusan Gunung Lewotobi pada 4 November 2024 mengundang atensi dari banyak pihak, termasuk dari lembaga Caritas Larantuka. Sejak peristiwa itu terjadi, lembaga ini turut terlibat mengadvokasi para korban. Ditinjau dari perspektif pastoral konseling, bagi penulis, keterlibatan Caritas Larantuka bukan sekadar respons sosial. Namun, ia merepresentasikan kehadiran gembala (konselor) untuk memulihkan keterlukaan korban (klien). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil menunjukkan bahwa lembaga Caritas Larantuka turut berkontribusi dalam mengatasi keterlukaan korban bencana letusan Gunung Lewotobi. Dalam sistem kerja yang cekat dan kolaboratif, lembaga ini hadir bak konselor yang mendekatkan diri dengan para korban. Ia hadir untuk memulihkan trauma dan keterlukaan para korban.</em></p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Maximus Manu, Emanuel Rizan Pryatno, Kornelius Afran Guruhttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/526ANALISIS DOKTRIN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI JOHN CALVIN TENTANG INKARNASI KRISTUS2025-11-17T06:32:07+00:00Chandra Wahyuni Irawatichandrawahyuni29@gmail.com<p><em>This study examines Erastus Sabdono’s concept of corpus delicti from the perspective of John Calvin's theology on the doctrine of Christ’s incarnation. As a comparative dogmatic study using qualitative library research methods, this study finds that the concept of corpus delicti, which underlies and serves as a lens for Sabdono’s theological conclusions regarding the incarnation of Christ, contains deviations from the teachings of Scripture. This study shows that there are several theological distortions in the doctrine of corpus delicti, including the negation of the doctrine of Christ’s incarnation and the distortion of the true message of the Gospel, which implicitly results in a concept of salvation based on morality or legalism. The doctrine of corpus delicti also has the potential to produce an unrealistic concept of Christian perfection given the sinful nature of humans.</em></p> <p>Studi ini mengkaji konsep corpus delicti dari Erastus Sabdono dalam perspektif teologi John Calvin tentang doktrin inkarnasi Kristus. Sebagai studi komparatif dogmatis dengan metode kualitatif kepustakaan, studi ini menemukan bahwa konsep corpus delicti, yang melatarbelakangi dan menjadi lensa bagi kesimpulan-kesimpulan teologis yang diajarkan Sabdono mengenai inkarnasi Kristus, mengandung penyimpangan dari pengajaran Kitab Suci. Studi ini menunjukkan adanya beberapa distorsi teologis pada doktrin corpus delicti, di antaranya negasi terhadap doktrin inkarnasi Kristus dan distorsi terhadap pesan Injil yang sejati yang secara implisit menghasilkan konsep keselamatan berbasis moral atau legalisme. Doktrin corpus delicti juga berpotensi menghasilkan konsep kesempurnaan Kristen yang tidak realitis dengan natur manusia yang berdosa.</p> <p> </p> <p> </p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Chandra Wahyuni Irawatihttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/533Imperatif Ganda dalam 1 Petrus 4:7-11 sebagai Dasar Manifestasi Partisipium dalam Kesadaran Eskatologis: Suatu Kajian Eksegesis Gramatikal dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini2025-11-03T02:06:56+00:00Hotria Imelda Sagalaimeldasagala08@gmail.com<p><em>This article examines 1 Peter 4:7-11, focusing on the two main imperatives, s?phron?sate (“be sensible”) and n?psate (“be sober”), as the basis for Christian ethics of love and service within eschatological awareness. Using an exegetical method with a historical-grammatical and contextual approach, this study finds that these imperatives form the foundation for all acts of love, hospitality, and ministry mentioned by Peter. Eschatological awareness is not passive waiting but an active orientation toward responsible love and glorifying God. Its relevance for the Indonesian church lies in the challenges of modernity, digital faith, and spiritual decline that demand renewal in transformative ministry. Thus, 1 Peter 4:7-11 serves as a theological foundation for shaping Christian community ethics rooted in love and eschatological hope.</em></p> <p>Tulisan ini bertujuan menelaah 1 Petrus 4:7-11 dengan fokus pada dua imperatif utama, s?phron?sate (kuasailah dirimu) dan n?psate (waspadalah), sebagai dasar etika kasih dan pelayanan dalam kesadaran eskatologis. Metode yang digunakan adalah eksegesis dengan pendekatan historis-gramatikal yang diikuti refleksi kontekstual terhadap kehidupan gereja masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua imperatif tersebut membentuk fondasi bagi seluruh tindakan kasih, keramahan, dan pelayanan karunia yang dijabarkan Petrus. Kesadaran eskatologis bukan sekadar penantian pasif, melainkan orientasi hidup yang aktif dan bertanggung jawab dalam mengasihi sesama serta memuliakan Allah. Relevansinya bagi gereja Indonesia tampak dalam tantangan modernitas, digitalisasi iman, dan krisis spiritualitas yang menuntut pembaruan praksis kasih dan pelayanan transformatif. Dengan demikian, teks 1 Petrus 4:7-11 menjadi landasan teologis bagi pembentukan etika komunitas Kristen yang berakar pada kasih dan pengharapan eskatologis.</p> <p> </p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hotria Imelda Sagalahttps://jurnal.moriah.ac.id/index.php/didache/article/view/551PENTINGNYA PERSIAPAN MENGAJAR UNTUK MENCAPAI TUJUAN PEMBELAJARAN2025-12-02T04:47:02+00:00Anita Louru Dairu Dairuanitalourudairu@gmail.comSri Mulyanimelechy06@gmail.comNelci Oktaviantimelechy06@gmail.com<p>Persiapan mengajar merupakan elemen fundamental dalam menentukan kualitas kegiatan pembelajaran. Guru bukan sekadar pemberi materi, namun sebagai perancang, mediator, pemotivasi dan teladan bagi siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pentingnya persiapan mengajar demi terwujudnya tujuan pembelajaran serta aspek-aspek yang memengaruhi keberhasilannya. Pendekatan yang dipakai adalah studi pustaka dengan mengkaji berbagai sumber yang terkait persiapan pembelajaran, kompetensi guru, serta implementasi Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan mengajar berfungsi sebagai jembatan antara tujuan pembelajaran dalam kurikulum dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Persiapan yang matang, termasuk penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Modul Ajar, pemilihan metode, penggunaan media, dan perencanaan evaluasi, terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran dan ketercapaian kompetensi siswa. Faktor pendukung seperti sarana prasarana, kompetensi guru, dan manajemen waktu berpengaruh signifikan terhadap kualitas persiapan mengajar. Sebaliknya, keterbatasan fasilitas dan rendahnya penguasaan kompetensi menjadi hambatan yang dapat menurunkan mutu pembelajaran. Dengan demikian, kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru dalam menyiapkan dan menerapkan strategi pembelajaran secara sistematis, profesional, dan sesuai perkembangan kurikulum.</p>2025-12-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anita Louru Dairu Dairu, Sri Mulyani, Nelci Oktavianti